MOLA & MICHA
Pada zaman dahulu kala datanglah
seorang anak laki-laki ke suatu desa kecil dengan hutan bakau yang luas.
Dia bernama Micha. Matanya biru terang dengan rambut ikal halus dan
berkilau seperti tembaga. Tubuhnya kecil, mirip seperti penduduk desa.
Micha
senang menyelam dan bermain bersama ikan-ikan di laut.
Disuatu siang yang terik, ketika
Micha sedang duduk diatas perahu kayu yang mengapung, tiba-tiba muncul seekor
kura-kura besar dari dalam air.
Kura-kura itu berbicara kepadanya;
“Halo, aku
Mola. Aku adalah kura-kura tua yang telah 20 tahun hidup di area ini. Nama kamu
siapa?”.
Micha sangat terkejut melihat kura-kura itu berbicara kepadanya.
Micha sangat terkejut melihat kura-kura itu berbicara kepadanya.
Dengan tergagap dia pun menjawab;
“Nna..nama..namaku Micha”.
“Hmm.. nama yang bagus. Sepertinya aku tak pernah melihatmu disekitar sini sebelumnya.” kata Mola
“Ya. Aku baru saja tinggal disini. Aku datang dari negeri yang sangat jauh dan dingin. Aku sangat menyukai tempat ini.” Sambung Micha“
Tempat ini memang sangat cantik. Aku tidak merasa heran kamu menyukainya. Senang berkenalan denganmu Micha.” Kata Mola lagi
“Kamu benar Mola. Senang juga berkenalan denganmu Mola.” Balas Micha.
“Hmm.. nama yang bagus. Sepertinya aku tak pernah melihatmu disekitar sini sebelumnya.” kata Mola
“Ya. Aku baru saja tinggal disini. Aku datang dari negeri yang sangat jauh dan dingin. Aku sangat menyukai tempat ini.” Sambung Micha“
Tempat ini memang sangat cantik. Aku tidak merasa heran kamu menyukainya. Senang berkenalan denganmu Micha.” Kata Mola lagi
“Kamu benar Mola. Senang juga berkenalan denganmu Mola.” Balas Micha.
Kemudian mereka berdua menjadi
sahabat.
Setiap hari Mola datang menemui Micha.
Mereka bermain bersama juga
bekerja untuk membantu ikan-ikan yang bermasalah atau pun sakit.
Namun semakin hari mereka semakin sering menemukan banyak ikan yang sakit.
Mola dan Micha pun menjadi heran dan
kebingungan, apakah yang menyebabkan ikan-ikan sakit seperti sekarang ini.
Karena keadaan tak kunjung membaik, Mola dan Micha pun memutuskan untuk mencari tahu penyebab masalah ini.
Mereka mulai dengan menanyai satu per satu ikan tentang dimana ikan-ikan tersebut bermain atau pun mencari makan.
Lalu seekor ikan berekor kuning terang seperti pisang, menjelaskan bahwa biasanya mereka mendapatkan banyak makanan disekitar jembatan kayu penduduk desa.
Mola pun meminta Micha untuk menyelidiki tempat tersebut.
Setibanya Micha disana, dia sangat terkejut melihat begitu banyak baterai bekas mencemari air laut.
Setibanya Micha disana, dia sangat terkejut melihat begitu banyak baterai bekas mencemari air laut.
Ternyata baterai-baterai bekas yang berkarat telah dibuang ke tempat itu oleh penduduk
desa.
Kemudian Micha mengabarkan kepada
Mola perihal penemuannya itu.
Hal itu tentu saja membuat Mola sangat marah.
“Mereka tak
seharusnya membuang baterai bekas ke bawah jembatan itu!!! Lihatlah sekarang
banyak ikan yang sekarat karenanya!” Mola menggerutu.
Mola pun berpikir mencoba mencari jalan keluar atas masalah baterai itu.
Mola pun berpikir mencoba mencari jalan keluar atas masalah baterai itu.
Lalu Mola meminta Micha sekali lagi
untuk mendatangi penduduk desa dan menasehati mereka untuk berhenti membuang
baterai beracun ke laut.
Micha menuruti perkataan Mola untuk menemui penduduk desa.
Micha menuruti perkataan Mola untuk menemui penduduk desa.
Tetapi apa yang didapatkan Micha tidak lebih dari
sekedar cibiran dan gelak tawa penduduk desa yang beranggapan bahwa
perkataannya tidak penting sama sekali.
Micha tentunya merasa kesal, namun dia tidak putus asa.
Micha tentunya merasa kesal, namun dia tidak putus asa.
Setiap hari Micha menyelam ke dasar laut disekitar
jembatan untuk mengeluarkan baterai-baterai beracun itu dari sana.
Micha
bekerja keras dari pagi sampai sore.
Rupanya aksi Micha tak membuahkan hasil.
Karena semakin Micha berusaha, semakin senang pula penduduk desa mengotori laut
dengan berbagai macam limbah.
Keadaan semakin memburuk dari hari ke hari.
Mola mengabarkan kepada Micha bahwa semakin banyak ikan yang keracunan dan tak
terselamatkan.
Berita itu sangat melukai perasaan mereka berdua.
Dalam perasaan duka yang mendalam serta akal dan tubuh yang telah lelah, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Dalam perasaan duka yang mendalam serta akal dan tubuh yang telah lelah, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Lalu tiba-tiba saja seseorang mengetuk-ngetuk pintu rumah Micha pada suatu
malam yang pilu dimana hujan lebat serta angin bertiup kencang.
Sambil terisak
seorang ibu itu memanggil-manggil nama Micha.
“Michaaa… Michaaa… Tolong!” sahut ibu itu
“Ada apa?” Tanya Micha heran
“Dapatkah kau membantuku? Anak ku sedang sekarat. Aku takut sekali” jawab si ibu
“Lihatlah wajah nya pucat. Sudah 3 hari tubuhnya lemas, dan selalu muntah” sambungnya
“Mengapa bisa sampai seperti ini?” Micha sangat penasaran
“Sudah beberapa hari ini suamiku tidak melaut karena cuaca yang buruk. Dia pun memancing di sekitar jembatan, sekedar untuk mendapatkan beberapa ikan untuk dimakan. Setelah itu, anak ku menjadi seperti ini” terang si ibu
“Sepertinya anak anda telah keracunan oleh ikan-ikan yang juga keracunan oleh baterai-baterai bekas kalian sendiri.” Micha menjelaskan
“Lalu apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi persoalan itu?” Tanya si ibu dengan gusar.
“Mulailah dengan tidak membuang limbah beracun ke laut. Kemudian kabarkan kepada penduduk lainnya untuk melakukan hal yang sama.” Micha menasehati
Si ibu menuruti nasihat Micha, hingga akhirnya keadaan semakin membaik.
“Michaaa… Michaaa… Tolong!” sahut ibu itu
“Ada apa?” Tanya Micha heran
“Dapatkah kau membantuku? Anak ku sedang sekarat. Aku takut sekali” jawab si ibu
“Lihatlah wajah nya pucat. Sudah 3 hari tubuhnya lemas, dan selalu muntah” sambungnya
“Mengapa bisa sampai seperti ini?” Micha sangat penasaran
“Sudah beberapa hari ini suamiku tidak melaut karena cuaca yang buruk. Dia pun memancing di sekitar jembatan, sekedar untuk mendapatkan beberapa ikan untuk dimakan. Setelah itu, anak ku menjadi seperti ini” terang si ibu
“Sepertinya anak anda telah keracunan oleh ikan-ikan yang juga keracunan oleh baterai-baterai bekas kalian sendiri.” Micha menjelaskan
“Lalu apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi persoalan itu?” Tanya si ibu dengan gusar.
“Mulailah dengan tidak membuang limbah beracun ke laut. Kemudian kabarkan kepada penduduk lainnya untuk melakukan hal yang sama.” Micha menasehati
Si ibu menuruti nasihat Micha, hingga akhirnya keadaan semakin membaik.
Hari berganti hari akhirnya penduduk desa
menyadari kesalahan mereka.
Mereka juga bergotong royong membersihkan laut dan
lingkungan sekitar desa.
Mola dan Micha begitu gembira melihat ikan-ikan sehat kembali.
Mola dan Micha begitu gembira melihat ikan-ikan sehat kembali.
Mereka pun hidup bahagia dan sehat.

Comments
Post a Comment